• Status Order
  • Tlp: +62251 8409021
  • SMS/WA: +6285221138651
  • hallo@nudiralearningcenter.com
Terpopuler:

Dorong UMKM Membumi dan Mendunia!

30 October 2018 - Kategori Blog

Revolusi Industri

Seperti yang sudah kita ketahui, revolusi industri pertama berbicara tentang terciptanya mesin uap, lalu pada revolusi industri kedua ditandai terjadinya perbaikan proses produksi yang membuat manusia dapat memproduksi barang secara massal (mass production) pada abad ke-19. Setelah itu muncul automasi produksi menggunakan robot dan penggunaan teknologi informasi. Masuk kepada revolusi industri keempat, menekankan kepada integrasi antar alat menggunakan internet dan pemanfaatan big data.

Kementerian Perindustrian telah merancang Making Indonesia 4.0 sebagai sebuah roadmap (peta jalan) yang terintegrasi untuk mengimplementasikan sejumlah strategi dalam memasuki era Industry 4.0. Guna mencapai sasaran tersebut, langkah kolaboratif ini perlu melibatkan beberapa pemangku kepentingan, mulai dari institusi pemerintahan, asosiasi dan pelaku industri, hingga unsur akademisi.

Pada revolusi industri keempat, menjadi lompatan besar bagi sektor industri, dimana teknologi informasi dan komunikasi dimanfaatkan sepenuhnya.Tidak hanya dalam proses produksi, melainkan juga di seluruh rantai nilai industri sehingga melahirkan model bisnis yang baru dengan basis digital guna mencapai efisiensi yang tinggi dan kualitas produk yang lebih baik. Untuk itu, sektor industri nasional perlu banyak pembenahan terutama dalam aspek penguasaan teknologi yang menjadi kunci penentu daya saing di era Industry 4.0. Kita melihat banyak negara, baik yang maju maupun berkembang, telah menyerap pergerakan ini keagenda nasional mereka dalam rangka merevolusi strategi industrinya agar semakinberdaya saing global. Dan, Indonesia siap untuk mengimplementasikan.

Di atas kertas, pemerintah Indonesia tampak serius dalam mendorong sektor bisnis untuk beradaptasi dengan era Industri Keempat atau Industri 4.0 yang didominasi oleh konektivitas. Internet menjadi sesuatu yang tak bisa dipisahkan dari era ini.

Pemerintah merencanakan strategi perekonomian berbasis teknologi, tak terkecuali untuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang semakin mendominasi. Namun, sejauh mana para pemilik serta pelaku usaha memahami apa yang wajib mereka lakukan demi mengejar ambisi pemerintah, yaitu membawa Indonesia menjadi 10 besar ekonomi di tahun 2030?

Harus Berubah

UMKM harus menjadi salah satu sektor yang diperhatikan pemerintah. Sebab, berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah pada akhir 2016 lalu, UMKM menyumbangkan 60,34 persen Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut meningkat jika dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 57,84 persen.

Kemudian, bila dibagi menurut jenis usaha, industri kuliner menempati urutan pertama dengan 32,5 persen. Berikutnya adalah industri fashion sebesar 28,3 persen, lalu diikuti oleh industri kerajinan sebesar 14,4 persen. Artinya, ketiga jenis usaha tak hanya menjadi favorit pemilik UMKM dan memiliki pasar yang besar, tapi juga berperan sangat signifikan dalam meningkatkan perekonomian.

Maka sudah sepantasnya UMKM mengadaptasi beragam hal yang penting agar mampu memanfaatkan era Industri 4.0 dengan baik. Dirjen Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian melakukan pemberdayaan 3,7 juta UMKM menuju e-commerce. Pendanaan teknologi serta penerapan insentif investasi teknologi di mana pemerintah memberikan subsidi untuk adopsi teknologi dan pendanaan bagi pelaku usaha. Target Indonesia tahun 2030 menjadi salah satu negara yang punya industri sangat maju. Tapi produsen harus difasilitasi. Kalau tidak, barangnya dari mana? Impor. Jangan jualin barang-barang impor saja, tapi juga harus perbanyak produksi sendiri.

Pemerintah sendiri menargetkan pada 2020 harus ada delapan juta UMKM yang memiliki kehadiran online. Ini juga untuk memenuhi Presiden RI yang ingin pertumbuhan ekonomi mencapai tujuh persen pada 2019. Sementara itu, saat ini baru ada sekitar empat juta UMKM yang go-online. Jika dilihat dari jumlah populasi serta pertumbuhan kelas menengah, Indonesia merupakan pasar terbesar di kawasan Asia Tenggara. Sayangnya, fakta menjanjikan ini belum bisa mendatangkan keuntungan bagi Indonesia.

Sekitar 90 persen barang yang ada di marketplace adalah barang impor. Tugas pemerintah menurunkan angka 90 persen tersebut.

Kenapa UMKM tidak mencoba membuat marketplace sendiri ? ini yang masih sedikit jumlahnya karena sangat sedikit jumlah orang yang terlatih dalam bidang ini. Produk Indonesia buatan UMKM harus mengglobal tidak hanya membumi. Membumi saja Indonesia ini sangat luas. Apa yang dibutuhkan ? Memasarkannya. Lewat apa ? TEKNOLOGI INTERNET. Jika produk UMKM sudah terpasang di media sosial, yang melihat bukan hanya pasar skala nasional, namun jejak digitalnya akan sampai ke pasar internasional.

Teknologi Internet, mampu menjangkau yang terjauh sekalipun.

Nudira Learning Center berusaha menjawab kebutuhan masyarakat, pelaku bisnis, UMKM, dan Pemerintah. Kami mengadakan Pelatihan Digital Marketing “Membuka Toko Online” bagi para pembisnis yang ingin memasarkan porduknya lewat internet. Pelatihan selama dua hari yang didampingi dan dibimbing oleh Davit Putra, akan membantu produk Anda menembus pasar nasional bahkan global. Ikuti agenda jadwa pelatihannya di www.nudiralearningcenter.com

 

, , , ,

WhatsApp chat WhatsApp Nudira Learning Center